Selamat Datang Di Blog Sambas Sunnah, Sebuah Blog Karya Biak Kitte Juak. Semoga Bermanfaat. Ayo...Semangat Menuntut Ilmu Agama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ “Barang siapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu agama, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699).
 
Tampilkan postingan dengan label Wawasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wawasan. Tampilkan semua postingan
Selasa, 15 Agustus 2017

Tahukah Kamu? (03) - Makna Tauhid

0 komentar
Bismillaah...

Setelah kita mengetahui tujuan dari Alloh tabaroka wa ta’ala menciptakan kita yakni untuk beribadah kepada-Nya dan mengetahui dua syarat agar amal ibadah kita diterima oleh Alloh tabaroka wa ta’ala, maka pada kesempatan kali ini kita akan membahas sedikit dari makna tauhid. Untuk itu silahkan simak penjelasan singkat berikut.

Didalam sebuah ayat, Alloh tabaroka wa ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ 
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rosul pada tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Alloh (saja) dan jauhilah Thoghut”. (QS. An-Nahl: 36).

Ayat ini menafsirkan makna ibadah dan tauhid serta menjelaskan pula bahwa seluruh rosul diutus dengan membawa dua kalimat ini, yakni: “Beribadahlah kepada Alloh dan jauhilah toghut”. Inilah makna at-Tauhid, karena pada firman-Nya (اعْبُدُوا اللَّهَ) terdapat ikrar tentang tauhid, dan pada firman-Nya (وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ) terdapat pengingkaran terhadap kesyirikan. Adapun makna dari الطَّاغُوتَ itu sendiri adalah segala hal yang menyebabkan seseorang melampaui batasan Alloh, baik berbentuk sesembahan, suatu panutan maupun pemimpin.
Didalam ayat yang lain Alloh tabaroka wa ta’ala berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا 
“Dan Robbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada Ibu Bapakmu dengan sebaik-baiknya”. (QS. Al-Israa’: 23).

(وَقَضَىٰ رَبُّكَ) artinya: (Robbmu) memerintahkan dan mewasiatkan.
(أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ) artinya: Kamu membatasi ibadah hanya untuk-Nya semata, (tidak menunjukkan ibadah tersebut) kepada selain-Nya.

Maksud ayat tersebut selaras dengan makna لا اله الا الله. Kandungan ayat diatas secara jelas menunjukkan kepada makna tauhid, yaitu: mengkhususkan peribadahan hanya kepada Alloh semata. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tauhid merupakan realisasi dari kalimat لا اله الا الله.

Demikianlah sedikit penjelasan dari makna tauhid. Semoga dengan ini kita dapat mengetahui hakikat dari tauhid itu sendiri dan dapat merealisasikannya dalam kehidupan kita. Allohumma Aamiin.


Wallohu ‘alam...

Disusun,
Selasa, 22 Dzulqo’dah 1438H / 15 Agustus 2017
Kala senja di Kota Singkawang

Abu Aufa Aal.
Read more...
Senin, 31 Juli 2017

Tahukah Kamu? (02) - Syarat Diterimanya Ibadah

0 komentar
Tahukah kamu?
2 SYARAT DITERIMANYA IBADAH KITA OLEH ALLOH ADALAH IKHLAS DAN ITTIBA'

Bismillaah...
Saudaraku, ketahuilah bahwa agar amal ibadah yang kita lakukan diterima oleh Alloh tabaroka wa ta'ala adalah hendaknya amal ibadah tersebut memenuhi 2 (dua) syarat. Apabila salah satu syarat tidak dipenuhi, maka sia-sialah amalan yang kita kerjakan.

Yuk...
Kita sama-sama mencari tahu, apa saja 2 (dua) syarat tersebut?

Dua syarat tersebut termaktub didalam surat Al-Kahfi, Alloh tabaroka wa ta'ala berfirman:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً
“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan dengan seorangpun dalam beribadah kepada Rabb-nya.” (QS. Al-Kahfi: 110).
Oleh karena itu Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini berkata, “Dua hal ini merupakan dua rukun amal yang diterima. (Jadi suatu amalan) harus ikhlas karena Alloh dan sesuai dengan syari’at Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam”. (Lihat: Mudzakkirah fil ‘Aqidah, karya Dr. Shalih bin Sa’ad as-Suhaimy, hal: 9-12).
Al Fudhail bin ‘Iyadh tatkala menjelaskan mengenai firman Alloh,

لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al Mulk: 2). 

Beliau mengatakan, “yaitu amalan yang paling ikhlas dan showab (sesuai ajaran Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam).”

Lalu Al Fudhail berkata,  “Apabila amal dilakukan dengan ikhlas namun tidak sesuai ajaran/petunjuk Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam, amalan tersebut tidak akan diterima. Begitu pula, apabila suatu amalan dilakukan mengikuti/sesuai ajaran beliau shallallohu ‘alaihi wasallam namun tidak ikhlas, amalan tersebut juga tidak akan diterima. Amalan barulah diterima jika terdapat syarat ikhlas dan showab. Amalan dikatakan ikhlas apabila dikerjakan semata-mata karena Allah. Amalan dikatakan showab apabila sesuai dengan ajaran/tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam". 
(Lihat: Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rojab Al Hambali, Darul Muayyid, cetakan pertama, 1424 H).


Contoh:
1. Seseorang melakukan sholat wajib karena mengharapkan pujian dari manusia (misalnya: boss, mertua, dll), meskipun sholat yang ia lakukan sesuai tuntunan Nabi shallallohu 'alaihi wasallam maka tetap saja amal ibadahnya ini akan ditolak oleh Alloh. Begitupun sebaliknya, seseorang melakukan sholat wajib dengan ikhlas karena Alloh semata, akan tetapi ia tidak mengikuti tuntunan/ajaran Nabi shallallohu 'alaihi wasallam (misal: sholat zuhur 3 rakaat, atau sholat wajib hanya 3 waktu), maka sudah barang tentu ibadahnya ini juga tidak akan diterima oleh Alloh tabaroka wa ta'ala.

2. Ibadah haji merupakan salah satu ibadah yang mulia. Namun manakala seseorang berangkat haji bukan karena Alloh (misal: niat hajinya untuk mendapat kehormatan dimata manusia dengan gelar pak hajinya, atau niat hajinya untuk kepentingan politik dan jabatannya atau bahkan niat pergi haji untuk berjualan disana, dll), maka ibadah hajinya tidak akan diterima oleh Alloh meskipun ia melaksanakan haji tersebut sesuai dengan contoh/ajaran Nabi shallallohu 'alaihi wasallam. Dan begitupun sebaliknya seseorang melaksanakan ibadah haji ikhlas hanya karena Alloh semata akan tetapi ibadah hajinya menyelisihi sunnah/ tidak sesuai tuntunan Nabi shallallohu 'alaihi wasallam (misal: hajinya tidak dibulan haji, atau mungkin hajinya di Karbala-Iran, dll) maka dapat dipastikan bahwasanya amal ibadah haji orang tersebut tertolak.

Dan masih banyak contoh-contoh lainnya yang tidak bisa kita sebutkan satu persatunya karena keterbatasan ruang dan waktu.

Demikianlah saudaraku, bahwasanya setiap amalan yang kita lakukan haruslah memenuhi 2 (dua) syarat agar ibadah tersebut diterima oleh Alloh tabaroka wa ta'ala. Inilah saatnya kita semua mengoreksi kembali amalan-amalan ibadah kita yang telah kita lakukan maupun yang akan kita kerjakan agar kita bisa pastikan bahwa amal ibadah kita memenuhi persyaratan tersebut, karena jika tidak, sia-sialah apa yang telah kita usahakan dan hanya lelah yang kita dapatkan.

Kita tentunya berharap semoga Alloh tabaroka wa ta'ala memudahkan kita untuk beribadah dengan benar dan mengikhlaskan ibadah tersebut hanya kepada-Nya. Dan tentunya kita semua berharap agar Alloh ta'ala menerima semua amal ibadah yang kita lakukan sehingga turunlah Rahmat Alloh kepada kita sehingga dengan Rahmat-Nya, Alloh ta'ala memasukkan kita semua kedalam Surga-Nya yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. Allohumma Aamiin...


Disusun di Singkawang,
Menjelang waktu zuhur,
Senin 7 Dzulqo'dah 1438 / 31 Juli 2017




Abu Aufa Aal
Read more...
Kamis, 20 Juli 2017

Tahukah Kamu? (01) - Tujuan Kita Diciptakan

0 komentar
Tahukah kamu?
KITA DICIPTAKAN UNTUK BERIBADAH KEPADA ALLOH tabaroka wa ta’ala.

Bismillaah...
Saudaraku, pernahkah kita merenungkan kenapa kita ada didunia ini?
Untuk apa sih sebenarnya kita berada didunia ini?

Mungkin sebagian dari kita ada yang telah mengetahui jawabannya dan mungkin sebagian dari kita juga ada yang belum mengetahui jawabannya.

Nah...
Untuk kamu yang mungkin belum mengetahui jawabannya, simaklah firman Alloh subhanahu wa ta’ala berikut:

(56)
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Maksud dari ayat ini adalah: “Dan sama sekali tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia untuk banyak tujuan. Aku menciptakan mereka hanya demi satu tujuan, yaitu agar mereka beribadah kepada-Ku”.

Ayat ini mengandung penjelasan tentang tauhid, karena para ulama salaf menafsirkan kata (liya’buduun) dengan: “Kecuali untuk mengesakan-Ku”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh menuturkan: “Ibadah adalah suatu ungkapan yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi oleh Alloh ta’ala, baik berbentuk perkataan dan perbuatan, yang lahir maupun batin”.

Dengan demikian, kandungan makna dari ayat ini: sesungguhnya setiap bentuk ibadah harus ditujukan hanya kepada Alloh semata, bukan kepada selain-Nya.

Demikianlah saudaraku, penjelasan dari tujuan Alloh ta’ala menciptakan kita kedunia ini yakni untuk beribadah kepada Alloh dan tidak menujukan ibadah kepada selain Alloh ta’ala. Sungguh merupakan sebuah tujuan yang agung dan mulia bukan?

Semoga Alloh tabaroka wa ta’ala memudahkan kita semua untuk beribadah kepada-Nya, menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Allohumma aamiin.




Singkawang, 26 Syawwal 1438H / 20 Juli 2017M
Disusun oleh,




Abu Aufa Aal 
Read more...
 
Sambas Sunnah © 2016 | Created By Abu Aufa